Berhasil
mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan
bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah
mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan
kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita
tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan
mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan?
Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua
termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap
anak-anak kita.
Mengutip apa
yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:
Jika
anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika
anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika
anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika
anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika
anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika
anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika
anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika
anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika
anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika
anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya
Jujur sejak saya
menikah, saya beruntung sekali memiliki istri yang peduli dengan perkembangan
anak kami. Kami saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kami dan
sikap serta perilaku kami yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita sadar betul
anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka
itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Kami sangat menjaga itu.
Seperti judul
diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua,
karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan
perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan
menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat
“ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada
pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku
kita orang tua-nya terhadap pasangannya.
Sekarang ini
sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari
pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak klien saya yang merasakan
bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang
tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga
berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini
terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?
Jadilah teladan
bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap
informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang
tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara
Anda tidak sadari.
Jika kita orang
tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara
mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu sekolah (play group
atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat
berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah
itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu
hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam
kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan
jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik
kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak
Anda (yang halal tentunya).
Sumber : http://www.pendidikankarakter.com



Tidak ada komentar:
Write komentar