Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan
berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari `aradh akbar (yaumul hisab)
ALKISAH, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual
kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama
oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha
sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada
cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha
termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain
berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang
kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena
sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan
membayarnya dengan harga yang pas.”
Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku
menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah sesungguhnya
yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis
disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama
berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai
ahlinya ternyata ada cacatnya.
“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa
ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada
cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya,
itulah yang menyebabkan aku menangis.”
Pelajaran penting dari kisah di atas adalah usaha seorang Atha` yang
jeli melakukan introspeksi diri, menyadari kelemahan, dan kekurangannya.
Seiring akan datangnya Tahun Baru Islam 1435 H, kita pun perlu
melakukan evaluasi: sudah sejauh mana amal, ilmu, dan akhlak kita selama
ini. Perasaan puas dengan apa yang telah kita kerjakan harus kita kubur
dalam-dalam, sebab masih masih banyak ‘PR’ yang perlu dituntaskan.
Perputaran roda waktu meniscayakan bagi setiap manusia, lebih-lebih
seorang mukmin untuk melakukan Muhasabah. Muhasabah bisa berarti
melakukan introspeksi diri, evaluasi, atau koreksi atas kinerja selama
ini.
Muhasabah merupakan solusi tepat untuk menyadari dan merenungi segala
kebajikan maupun kebijakan bahkan kefasikan yang mungkin menyelimuti
semasa hidup di tahun sebelumnya sehingga kita dapat mengukur sejauh
mana keberhasilan dan kegagalan yang kita tunai.
Dalam al-Quran Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman
untuk bertakwa yang dirangkai dengan persiapan menyongsong hari akhir:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hasyr: 18)
Secara jelas, ayat ini menyuruh setiap mukmin untuk memperhatikan
nasibnya di akhirat kelak. Bekal apa yang telah kita siapkan agar
selamat di alam yang baru itu?
Imam Turmudzi meriwayatkan hadits yang berbunyi: “Orang yang pandai
adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk
kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang
dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah
swt.” (HR. Imam Turmudzi)
Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam
menjalani kehidupan di dunia ini karena hidup di dunia merupakan
rangkaian dari sebuah misi besar seorang hamba, yaitu menggapai
keridhaan Tuhan-nya. Imam Turmudzi meriwayatkan ucapan Sayidina Umar bin Khaththab yaitu:
“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan
berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari `aradh akbar (yaumul hisab).
Hisab itu hanya akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang
menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.”
Sahabat Umar memahami benar urgensi dari muhasabah ini. Pada kalimat
terakhir dari ungkapan di atas, beliau mengatakan bahwa orang yang biasa
mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di hari akhir kelak.
Beliau paham betul bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun
memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab
dari Allah swt.
Oleh karena itu, ketika kita menyinggung muhasabah, maka di dalamnya ada tiga bentuk atau tiga fase muhasabah.
Pertama, muhasabah sebelum berbuat. Muhasabah pada keadaan pertama
ini penting untuk dilakukan guna mengetahui apakah perbuatan yang hendak
kita lakukan bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun diri orang
lain. Berpikir jernih dan cerdas sebelum berbuat merupakan langkah
seorang besar yang memiliki visi yang jauh ke depan. Ia bisa menimbang
baik-buruk, positif-negatifnya suatu pekerjaan yang hendak ia lakoni.
Kedua, muhasabah saat melaksanakan sesuatu. Fase kedua yang perlu
didaki oleh kita setelah bermuhasabah sebelum berbuat adalah melakukan
introspeksi ulang di tengah perbuatan yang sedang kita jalani. Tujuannya
tidak lain adalah mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak
menyimpang. Layaknya kita sebagai manusia, mungkin kita baik di awal,
namun tak menjamin kita tetap berada di jalan yang semestinya manakala
kita tengah dalam proses mengerjakan sesuatu. Hal ini dapat mencegah
kemungkinan terjadinya penyimpangan pada saat melaksanakan sesuatu atau
menghentikannya sama sekali.
Ketiga, muhasabah setelah melakukan suatu perbuatan. Pada fase ini,
muhasabah berfungsi sebagai alat penemu kesalahan, kekurangan, dan
kekhilafan yang terselip di dalam melakukan sesuatu. Tujuannya jelas,
kesalahan yang terjadi tidak boleh terjadi pada masa mendatang.
Ketika kita selalu memperhatikan modal, memperhitungkan keuntungan
dan kerugian, bertobat dikala melakukan kesalahan dan bersungguh-sungguh
dalam melakukan kebaikan, Insya Allah kita termasuk orang yang
menghisab diri sebelum hari penghisaban, yaitu hari kiamat.*
Oleh : Ali Akbar bin Agil


Tidak ada komentar:
Write komentar